Sekilas terdengar klise. Diary atau catatan harian seringkali teribaratkan layaknya gadis remaja yang suka mencurahkan isi hatinya tentang keseharian, naksir cowok, tugas yang tak kunjung selesai, novel baru yang akan segera terbit, atau hal-hal remeh dalam keseharian remaja. Mangapa demikian? Karena mereka dianggap puya waktu luang yang berleih untuk menulis semua itu. Coba kita persenkan, berapa banyak orang dewasa yang masih suka menulis catatan harian. Tentang pekerjaan mugkin, atau kuliah, pasangan, anak, atau bisa jadi tentang resep masakan yang layak dicoba. Terkadang kita suka melewatkan hal-hal remeh yang ada di sekitar kita. Padahal, bila termaktubkan lalu dibaca sepuluh tahun mendatang akan menjadi sejarah. Misalkan dulu saat masih duduk di bangku sekolah pernah berantem dengan salah seorang teman, hal tersebut kita tulis kemudian dibaca sepuluh tahun lagi saat bahkan tak ingat bila pernah bertengkar. Membacanya tentu akan menjadi sebuah hal yang lucu dan mengesankan. Kita dapat mengetahui bagaimaa diri kita berubah dengan sendirinya secara beratur melalui catatan harian tersebut. Kok dulu aku bisa seperti ini, sih? Itu kan kekanak-kanakan banget! Lalu saat dewasa kita yang telah dapat berfikir lebih dalam dan (semoga) bijaksana tahu, bahwa tak sia-sia waktu membawa kita hingga saat ini. Catatn harian juga sebagai pertanda bahwa kita pernah hidup dan membuat suatu sejarah pada hari kemarin. Yang tentunya pantas untuk dikenang kembali. Karena kita setidakya tahu, bahwa saat itu kita pernah hidup dan merasakan banyak hal. Hal yang sedang tren saat ini mungkin dengan menggunakan jejaring facebook ataupun twitter. Bukan hanya sekedar menjadi sarana untuk berteman dengan orang lain yang lebih luas, tapi juga sebagai media curhat yang lebih praktis dan simple. Hari ini akan menjadi sebuah sejarah bagi hari esok. Untuk itu, selalu tingkatkan kualitas diri di tiap harinya!
Kehidupan memiliki banyak sekali cerita. Saat kita bergerak, bernafas, melihat. Selalu saja ada hal lain yang berkesinambung pada diri kita, cerita kita, dan hidup kita. Menatap dunia dan kehidupannya dari arah yang berbeda dan (mencoba) lebih bijaksana. Gracious!
Kamis, 21 Februari 2013
CATATAN HARIAN
Sekilas terdengar klise. Diary atau catatan harian seringkali teribaratkan layaknya gadis remaja yang suka mencurahkan isi hatinya tentang keseharian, naksir cowok, tugas yang tak kunjung selesai, novel baru yang akan segera terbit, atau hal-hal remeh dalam keseharian remaja. Mangapa demikian? Karena mereka dianggap puya waktu luang yang berleih untuk menulis semua itu. Coba kita persenkan, berapa banyak orang dewasa yang masih suka menulis catatan harian. Tentang pekerjaan mugkin, atau kuliah, pasangan, anak, atau bisa jadi tentang resep masakan yang layak dicoba. Terkadang kita suka melewatkan hal-hal remeh yang ada di sekitar kita. Padahal, bila termaktubkan lalu dibaca sepuluh tahun mendatang akan menjadi sejarah. Misalkan dulu saat masih duduk di bangku sekolah pernah berantem dengan salah seorang teman, hal tersebut kita tulis kemudian dibaca sepuluh tahun lagi saat bahkan tak ingat bila pernah bertengkar. Membacanya tentu akan menjadi sebuah hal yang lucu dan mengesankan. Kita dapat mengetahui bagaimaa diri kita berubah dengan sendirinya secara beratur melalui catatan harian tersebut. Kok dulu aku bisa seperti ini, sih? Itu kan kekanak-kanakan banget! Lalu saat dewasa kita yang telah dapat berfikir lebih dalam dan (semoga) bijaksana tahu, bahwa tak sia-sia waktu membawa kita hingga saat ini. Catatn harian juga sebagai pertanda bahwa kita pernah hidup dan membuat suatu sejarah pada hari kemarin. Yang tentunya pantas untuk dikenang kembali. Karena kita setidakya tahu, bahwa saat itu kita pernah hidup dan merasakan banyak hal. Hal yang sedang tren saat ini mungkin dengan menggunakan jejaring facebook ataupun twitter. Bukan hanya sekedar menjadi sarana untuk berteman dengan orang lain yang lebih luas, tapi juga sebagai media curhat yang lebih praktis dan simple. Hari ini akan menjadi sebuah sejarah bagi hari esok. Untuk itu, selalu tingkatkan kualitas diri di tiap harinya!
Rabu, 13 Februari 2013
Kehidupan Adalah Hari Ini
Kenangan manis di masa lalu tentu tak akan pernah terlupa. Meski tak ada lembaran foto ataupun tulisan di catatan harian sebagai bukti adanya sebuah kenangan, namun otak kita yang (seharusnya) melebihi kerja komputer dan menyimpan memori banyak ini mampu mengingat hal-hal yang menjadi kenangan kita itu. Walau tak jarang kenangan yang teringat bukan hanya yang indah saja, tapi juga yang buruk. Bila kita tengok diri kita hari ini, lalu membandingkan hari kemarin dan ternyata hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini, ingin rasanya untuk numpang ke lorong masanya doraemon agar dapat kembali mencicipi atau menikmati indahnya masan lalu yang (ternyata) lebih baik.
Kemudian tak jarang juga kita terlewat pusing memikirkan hari esok hingga apa yang ada di depan mata kita pada hari ini terbengkalai. Mau terus kuliah dimana? Nanti kalau sudah besar enaknya kerja apa? Nanti kalau sudah menikah bagaimana? Bisa apa tidak nanti mengurus anak? Padahal kita yang hari ini sedang ditunggu oleh hal-hal yang sebenarnya sudah siap untuk dikerjakan.;
Memang benar, bahwa orang yang hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini termasuk orang yang merugi. Kalimat tersebut ditunjukkan untuik memotivasi kita agar selalu berusaha yang lebih baik lagi setiap harinya. Namun ila kenyataan berkehendak lain, mau apa kita? Kembali ke masa lalu kemudian memperbaikinya? Atau mengingat-ingat masa lalu untuk membahagiakan diri bahwasanya kita juga pernah memiliki hal baik (dulu). Nasi telah menjadi bubur, namun seorang teman pernah menambahkan, maka kita buat bubur tersebut menjadi enak. Diberi ayam, beberapa bumbu agar tak hambar, atau aneka tambahan lain agar membuat nasi yang telah menjadi bubur itu dapat enak dinikmati. Untuk itu kita tak perlu menyesal terlalu lama akan buruknya hari ini. Bangkit dan berusaha untuk lebih baik lagi.
Sama halnya yang terlalu ingin baik di masa depan dengan mengabaikan apa yang ada hari ini. Karena terlalu berat setelah difikirkan terlalu jauh, kita menjadi takut untuk mengerjakan apa yang ada di depan mata kita kini. Misalkan saja, ada orang yang sudah memikirkan susahnya melahirkan. Saat hamil yang akan membuat seorang perempuan menjadi gemuk, sakit tak tertahankan, hingga prosesi melahirkan. Belum lagi banyak kejadian seorang ibu yang meninggal saat melahirkan. Padahal perempuan itu masih belasan tahun. Setelah berfikir (kelewat) jauh, perempuan itu menjadi parno melihat ibu hamil, alih-alih akan takut melahirkan dan tak mau menikah. *horor
Kawan... hari ini adalah sebuah kehidupan yang nyata. Bukan tentang hari kemarin, bukan juga tentang hari esok. Hari kemarin hanya cukup untuk dikenang saja, bukan untuk diingat-ingat. Hari esok adalah sebuah harapan, tetapi yang paling jelas adalah apa yang ada di depan mata. Yaitu hari ini. Yang akan mengubah hari esok dan memperbaiki hari kemarin.
Kemudian tak jarang juga kita terlewat pusing memikirkan hari esok hingga apa yang ada di depan mata kita pada hari ini terbengkalai. Mau terus kuliah dimana? Nanti kalau sudah besar enaknya kerja apa? Nanti kalau sudah menikah bagaimana? Bisa apa tidak nanti mengurus anak? Padahal kita yang hari ini sedang ditunggu oleh hal-hal yang sebenarnya sudah siap untuk dikerjakan.;
Memang benar, bahwa orang yang hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini termasuk orang yang merugi. Kalimat tersebut ditunjukkan untuik memotivasi kita agar selalu berusaha yang lebih baik lagi setiap harinya. Namun ila kenyataan berkehendak lain, mau apa kita? Kembali ke masa lalu kemudian memperbaikinya? Atau mengingat-ingat masa lalu untuk membahagiakan diri bahwasanya kita juga pernah memiliki hal baik (dulu). Nasi telah menjadi bubur, namun seorang teman pernah menambahkan, maka kita buat bubur tersebut menjadi enak. Diberi ayam, beberapa bumbu agar tak hambar, atau aneka tambahan lain agar membuat nasi yang telah menjadi bubur itu dapat enak dinikmati. Untuk itu kita tak perlu menyesal terlalu lama akan buruknya hari ini. Bangkit dan berusaha untuk lebih baik lagi.
Sama halnya yang terlalu ingin baik di masa depan dengan mengabaikan apa yang ada hari ini. Karena terlalu berat setelah difikirkan terlalu jauh, kita menjadi takut untuk mengerjakan apa yang ada di depan mata kita kini. Misalkan saja, ada orang yang sudah memikirkan susahnya melahirkan. Saat hamil yang akan membuat seorang perempuan menjadi gemuk, sakit tak tertahankan, hingga prosesi melahirkan. Belum lagi banyak kejadian seorang ibu yang meninggal saat melahirkan. Padahal perempuan itu masih belasan tahun. Setelah berfikir (kelewat) jauh, perempuan itu menjadi parno melihat ibu hamil, alih-alih akan takut melahirkan dan tak mau menikah. *horor
Kawan... hari ini adalah sebuah kehidupan yang nyata. Bukan tentang hari kemarin, bukan juga tentang hari esok. Hari kemarin hanya cukup untuk dikenang saja, bukan untuk diingat-ingat. Hari esok adalah sebuah harapan, tetapi yang paling jelas adalah apa yang ada di depan mata. Yaitu hari ini. Yang akan mengubah hari esok dan memperbaiki hari kemarin.
Sebuah Akhir
Apakah manusia menyukai akhir yang bahagia? Kodratinya sih seperti itu, tapi toh banyak juga orang yang malah lebih suka membaca atau menoton film yang justru sad ending. Yang akhirnya tokoh utama pria meninggal, kasih tak sampai, ternyata tak cinta, dan sebagainya. Menurut pendapat mereka, itulah cerita yang leih terlihat manusiawi. Manusiawi? Apakah akhir yang bahagia itu tak mausiawi? Karena dalam cerita baik komik, film, novel, bahkan dongeng anak sebelum tidur selalu berakhir dengan bahagia, maka banyak orang berfikir, kehidupan adalah sebuah realita, bukan cerita semata. Padahal sering kali kita tak menyadari bahwa bahagianya kita dengan adegan happy ending dalam kehidupan rumit dan remeh kita ini. Ketika angkot yang lama ditunggu akhirnya datang, ketika nilai ujian berakhir baik, ketika hendak bepergian hujan tak turun. Apakah itu bukan happy ending? Meski sering kali sulit berfikir bagaimana akhir dari sebuah pengharapan atau juga penantian. Memikirkan akhir yang bahagia sering kali membuat terlena hingga tak siap untuk menghadapi hal yang jauh dari perkiraan tersebut. Karena dalam istilah Cina, yin dan yang selalu ada, maka bolehlah kita berfikir panjang dengan hal tersebut. Agar bila sesuatu yang buruk terjadi, maka kita akan siap dan tangguh untuk menerima hal tersebut. Manusia terlalu rapuh dan lemah untuk sekedar menghadapi kenyataan yang ada . perasaan bangkit dan mengingat masih ada janji masa depan lain yang menunggu di depan mata sana dengan mengumpulkan segala kekuatan dan sisa energi yang berhasil dikumpulkan. Siapa pula yang berharap kejelekan dan akhir yang menyedihkan dalam hidupnya sendiri. Sesungguhnya akhir dari kehidupan, bahkan kehidupan itu sendiri sejatinya ada di tangan manusia itu sendiri. Bila kita yang menentukan, untuk apa hanya menjadi sebuah rencana manis? Bergerak dan atur kembali strategi untuk hidup demi mencapai akhir yang bahagia, yang tentunya kita harapkan dan kita impikan setelah diperjuangkan.
Rabu, 16 Januari 2013
resolusi bosan
Pernah merasa bosan?
Bahkan melakukan pekerjaan yang kita suka pun kebosanan acap kali datang. Apalagi melakukan rutinitas yang 24 x 7 sama semua. Dari bangun pagi hingga tidur lagi.
Apa yang harus kita lakukan bila bosan datang? Meninggalkan pekerjaankah? Mencari pekerjaan lainkah?
Sebenarnya bosan adalah suatu kepastian. Jadi tak mungkin dihindari. Biarkan saja ia datang. Bosan toh memiliki manfaat juga. Saat kita merasa bosan, fikiran kita akan melayang dan mengambang. Sesungguhnya di balik rasa bosan itu ada unsur krestifitas. Mengapa? Karena fikiran kita yang sedang tidak berkonsentrasi hingga dapat menciptakan ide-ide baru baik untuk pekerjaan yang dibosankan hingga untuk hidup sendiri. Bukan berarti orag yang kreatif adalah orang yang cepat bosan. Kadangkala kebosanan juga hasil dari ketidakpuasan dan keinginan akan sebuah perubahan.
Saat bosan datang, lalu apa yang akan kita lakukan? Buat saja resonasi dari ‘hasil’ kebosanan tadi. Melakukan beberapa perubahan dalam pekerjaan, merencanakan rehat sejenak akan pekerjaan. Seringkali rasa bosan juga merupakan rasa penat atau lelah dengan keadaan.
Untuk itu, rasa syukur sangatlah penting ditamengkan dalam hal ini. Bukan berarti kita tak boleh melakukan sebuah perubahan, tapi dengan rasa syukur itu sendiri kita dapat lebih menikmati pekerjaan. Good job!
Minggu, 06 Januari 2013
perempuan dan air mata
bak sayur tanpa garam, itulah ibaratan hidup yang tanpa ujian. hidup pastilah penuh pergesekkan. dimana sedih, kesal, sesal, haru, tak pernah luput dari dalam skenario tersebut. sebagai perempuan, apa yang akan dilakukan?
presentase akan pertanyaan di atas tentunya adalah menangis. menangis bagi perempuan (saya lebih suka menyebut perempuan daripada wanita)adalah sebagai luapan rasa dan emosi. terharu menonton drama korea, nangis. ditinggal pacar, nangis. ada yang meninggal, nangis. lalu apa sebenarnya apa manfaat nangis bagi perempuan?
bila laki-laki mengekpresikan emosinya dengan kekerasan, misalkan saja sebal dengan orang, maka ia akan memukul orang itu. sedih karena ditinggalkan, ia akan berteriak. lalu perempuan, ia hanya akan menangis. karena justru dengan menangis itu sendiri ia akan menjadi lebih kuat. dengan menangis, perempuan akan menemukan kembali kekuatannya. dengan menangis perempuan dapat bangkit kembali. karena semua itu telah menguap bersama buliran air mata yang terteteskan.
jadi, jangan anggap perempuan lemah karena mudah menangis, karena justru dengan menangis, ia akan menjadi lebih tegar dan kuat.
Rabu, 26 Desember 2012
Memilih masa depan
Mungkin agak sedikit drama. Tapi jangan sebut aku Drama Queen karenanya. Aku tak pernah tahu masa depan. Manusia juga begitu. Siapapun ia. Bahkan dukun pun, tidak akan tahu bagaimana ia akan disiksa nanti di neraka atas kerjasamanya dengan jin dan setan untuk menguping pembicaraan surga tentang masa depan. Jibril saja tidak tahu kapan akan kiamat.
Lalu apa yang manusia harus lakukan? Manusia cukup dan memang seharusnya untuk mempersiapkan masa depannya. Walau toh akhirnya Tuhan jugalah yang menentukan. Alasan tersebut bukan berarti membuat kita diam dan menunggu ketentuan akhir dari Tuhan, bukan? Kita harus tetap bergerak dan menggerakkan. Berfikir dan memikirkan. Untuk itu kan manusia diciptakan.
Malaikat akan seratus persen taat pada Allah karena mereka memilki chip program untuk menjadi hamba Allah yang paling taat. Mereka tak memiliki keinginan ataupun hawa nafsu. Setan pun seperti itu. Ia akan seratus persen membangkang pada Allah karena chip yang mereka gunakan dari awal pembentukannya untuk menyesatkan manusia. Sedangkan manusia? Manusia bisa saja menjadi hamba Allah yang taat dan hamba Allah yang palng durhaka. Karena manusia dapat memilih. Jalan apa yang akan ia tempuh untuk dirinya dan dan privat kepada Tuhannya.
Dengan ketentuan Tuhan pun, bila mausia ingin memilih jalan hidupnya dengan baik, bisa jadi Tuhan menakdirkan seperti apa yang telah kita usahakan. Tidak pula seharusnya bagi kita mengatakan bahwa semua yang telah kita usahakan semata karena kemampuan yang kita milki. Lalu siapa yang memberikan kemampuan? Siapa yang memberikan kesempatan? Kata seorang kyai dalam acara sakral yang aku ikuti dua tahun yang lalu, “Insya Allah dengan kerja keras dan doa insya Allah akan mendapatkan hasil yang terbaik.” Pun bilamana sesuatu yang telah kita usahakan itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang datang, maka yang bisa kita lakukan selayaknya manusia adalah mengikhlaskan segalanya, kemudian bangkit. Moving!
Sabtu, 22 Desember 2012
Hidup Untuk Mati
اعمل لدنياك كـأنك تعيشين أبدا و اعمل لاخرتك كأنك تموت غدا
Bila kita mengerjakan sesuatu untuk duniawi, maka kita harus mengerjakannya semaksimal mungkin seakan-akan kita akan hidup selamanya, tapi untuk masalah ke-akhiratan, sebaiknya kita mengingat seakan-akan kita akn mati esok. Maka kita akan jauh lebih giat beribadah.
Refleksi setelah mengajar di MI. Ada seorang murid kelas enam yang ternyata mengidap kanker otak stadium empat, walau tak kenal aku tetap asyik menyimak cerita Pak Kepala Sekolah. Kondisi anak itu telah kritis. Sampai-sampai botok kepalanya retak. Kondisi pasca operasi yang ‘paling’ selamat adalah setengah mati. Karena otaknya akan diambil setengah. Ditangani oleh dua dokter kepresidenan yang sudah dihasut untuk berbuat amal bagi anak itu. Semoga operasinya berhasil. Amin.
Sang kepala sekolah jugaSemoga operasinya berhasil. Amin.
Sang kepala sekolah juga bercerita tentang mimpinya. Dulu sekali beliau pernah bermimpi mati. Sangat terasa. Sudah dimandikan, dikafani, dan akan dikuburkan, si mayat kepala sekolah itu bicara. Ia belum bersyahadat. Setelah membaca syahadat lengkap, beliau terbangun karena tebasan sajadah temannya yang mengatakan ia mengigau sambil bersyahadat keras-keras. Subhanallah.... bila saja kepala sekolah tersebut tak bersyahadat bisa saja ia dibawa mati dalam tidurnya.
Aku termenung sejenak. Mungkin juga aku sudah lama tak pernah memikirkan kehidupan setelah mati itu. Aku terlalu disibukkan dengan urusan keduniawian. Sibuk memikirkan kuliah selanjutnya, hiburan, dan berbagai macam hal yang sebenarnya hanya sesaat. Bulu kudukku otomatis berdiri mendengar cerita tersebut. Hampir saja menangis. Saat kepala sekolah bercerita tentang pembantunya yang ribut dengan pertanyaan. “Kita hidup untuk aapa, sih?” beliau menjawab, “Kita hidup untuk menyiapkan bekal setelah mati. Memilki mobil, digunakan untuk menolong orang. Memilki banyak uang, duigunakan untuk sedekah. Jadi sebenarnya yang kita lakukan di dunia ini ya kembalinya untuk nanti ketika kita telah mati.”
Lalu, apa yang telah kita persiapkan kini untuk bekal kelak bila nanti nafas tak mau lagi berhembus? Atau saat jantuk tak mau lagi berdetak? Siapkah kita untuk semua itu?
Indahnya hidup adalah saat kita dapat mengetahui kapan kita mati. Sama seperti hujan tak akan ada yang prenah tahu kan kapan turunnya kecuali jika sudah ada tanda-tanda mendung dan langit gelap? Karena tidak tahu itu, maka kita harus menyiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuk. Bisa saja setelah aku menulis ini aku mati. Siapa yang tahu?
Langganan:
Postingan (Atom)


